Aqiqah Anak Menurut Islam: Dalil, Hukum, dan Tata Cara Pelaksanaannya
Hosen · 3 September 2026 · 2 dilihat

Aqiqah anak merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk rasa syukur orang tua atas kelahiran seorang anak. Pelaksanaan aqiqah biasanya dilakukan dengan menyembelih kambing, kemudian dagingnya dimasak dan dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, maupun orang yang membutuhkan.
Namun, masih banyak orang tua yang bertanya: apa hukum aqiqah dalam Islam? Berapa kambing untuk anak laki-laki dan perempuan? Kapan waktu terbaik melaksanakan aqiqah? Dan bagaimana tata cara aqiqah sesuai sunnah?
Artikel ini membahas aqiqah menurut Islam secara lengkap, mulai dari dalil, hukum, jumlah hewan, waktu pelaksanaan, hingga hal-hal yang perlu diperhatikan agar pelaksanaan aqiqah sesuai dengan tuntunan syariat.
Apa Itu Aqiqah dalam Islam?
Secara sederhana, aqiqah dalam Islam adalah ibadah berupa penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur kepada Allah atas kelahiran seorang anak.
Aqiqah memiliki dasar yang kuat dari hadis Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Hadis tersebut menunjukkan beberapa bagian penting dalam pelaksanaan aqiqah, yaitu penyembelihan hewan, mencukur rambut bayi, dan pemberian nama.
Aqiqah bukan sekadar tradisi atau acara keluarga. Dalam perspektif syariat, aqiqah merupakan ibadah yang memiliki ketentuan tertentu sehingga sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan tuntunan Nabi ﷺ.
Apa Hukum Aqiqah Menurut Islam?
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum aqiqah. Mayoritas ulama, termasuk ulama dari mazhab Syafi'i dan Hanbali, memandang aqiqah sebagai sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan.
Artinya, orang tua yang memiliki kemampuan dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah bagi anaknya. Sementara orang tua yang tidak mampu tidak dibebani untuk melaksanakannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa di antara kalian ingin menyembelihkan (aqiqah) untuk anaknya, maka hendaklah ia melakukannya."
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Hadis tersebut juga menjadi salah satu dasar bahwa aqiqah bukan kewajiban mutlak bagi setiap orang tua.
Karena itu, aqiqah menurut Islam sebaiknya dipahami sebagai ibadah sunnah yang dikerjakan sesuai kemampuan. Orang tua tidak perlu memaksakan diri dengan berutang atau mengorbankan kebutuhan pokok keluarga hanya untuk menyelenggarakan aqiqah.
Dalil Aqiqah dalam Hadis Nabi ﷺ
Berbeda dengan beberapa ibadah lain yang dijelaskan secara rinci dalam Al-Qur'an, ketentuan aqiqah banyak dijelaskan melalui hadis Nabi ﷺ.
Salah satu hadis yang paling terkenal adalah sabda Rasulullah ﷺ:
"Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan, sedangkan untuk anak perempuan satu kambing."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Hadis ini menjadi dasar mengenai jumlah hewan dalam aqiqah.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya..."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Dari berbagai hadis tersebut, para ulama menjelaskan bahwa aqiqah merupakan ibadah yang dianjurkan dan memiliki tata cara tertentu.
Aqiqah Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah jumlah kambing untuk anak laki-laki dan perempuan sama.
Berdasarkan hadis Nabi ﷺ, ketentuannya adalah:
Aqiqah anak laki-laki: dua ekor kambing.
Aqiqah anak perempuan: satu ekor kambing.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Dengan demikian, aqiqah anak laki-laki secara sunnah dilakukan dengan dua ekor kambing, sedangkan aqiqah anak perempuan dilakukan dengan satu ekor kambing.
Dalam praktiknya, kondisi ekonomi juga perlu diperhatikan. Apabila orang tua tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dua kambing bagi anak laki-laki, jangan sampai hal tersebut membuat mereka merasa terbebani secara finansial.
Kapan Waktu Pelaksanaan Aqiqah?
Waktu yang paling utama dalam pelaksanaan aqiqah adalah hari ketujuh setelah kelahiran anak.
Hal ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ:
"Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama."
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Hari ketujuh dihitung berdasarkan hari kelahiran. Misalnya, jika seorang bayi lahir pada hari Senin, maka hari ketujuhnya adalah hari Ahad menurut perhitungan hari dalam hadis tersebut.
Namun, apabila aqiqah belum dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, terdapat pembahasan di kalangan ulama mengenai pelaksanaannya setelah hari tersebut. Dalam praktik masyarakat, aqiqah juga sering dilakukan pada hari ke-14, ke-21, atau setelahnya ketika orang tua sudah memiliki kemampuan.
Yang terpenting, keterlambatan pelaksanaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merasa putus asa atau terbebani.
Tata Cara Aqiqah Sesuai Sunnah
Agar tata cara aqiqah tidak sekadar menjadi acara seremonial, orang tua sebaiknya memahami beberapa hal penting berikut.
1. Menentukan Hewan Aqiqah
Hewan yang digunakan untuk aqiqah adalah kambing atau domba yang memenuhi ketentuan syariat.
Hewan hendaknya sehat, tidak memiliki cacat yang mengurangi kelayakannya, serta memenuhi ketentuan umur sebagaimana dibahas dalam fikih penyembelihan.
Karena aqiqah merupakan ibadah, pemilihan hewan tidak sebaiknya hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kesehatan dan kelayakan hewan.
2. Melakukan Penyembelihan Secara Syariat
Penyembelihan harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan ketentuan Islam.
Di antaranya adalah menggunakan alat yang layak, menyebut nama Allah, serta melakukan penyembelihan dengan cara yang baik dan tidak menyiksa hewan.
Allah SWT berfirman:
"Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah."
(QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat tersebut berbicara tentang ibadah kurban, bukan secara khusus tentang aqiqah. Namun, prinsip penyembelihan hewan sebagai ibadah tetap harus dilakukan sesuai ketentuan syariat.
3. Mencukur Rambut Bayi
Mencukur rambut bayi merupakan bagian yang disebutkan dalam hadis tentang aqiqah.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada hari ketujuh anak disembelihkan aqiqahnya, dicukur rambutnya, dan diberi nama.
Mencukur rambut bayi juga menjadi salah satu bentuk pelaksanaan sunnah yang berkaitan dengan kelahiran anak.
4. Memberikan Nama yang Baik
Pemberian nama merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang anak.
Islam menganjurkan orang tua memberikan nama yang baik karena nama menjadi identitas yang melekat pada seseorang.
Dalam hadis disebutkan:
"Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, maka perbaguslah nama-nama kalian."
(HR. Abu Dawud)
Karena itu, momentum aqiqah dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengingat kembali pentingnya memberikan nama yang baik kepada anak.
5. Mengolah dan Membagikan Daging
Dalam masyarakat Indonesia, daging aqiqah biasanya dimasak terlebih dahulu kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar.
Tujuan utamanya bukan hanya membuat acara aqiqah, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial dan berbagi kebahagiaan atas kelahiran seorang anak.
Orang tua dapat mengundang keluarga dan kerabat untuk makan bersama atau membagikan makanan aqiqah kepada masyarakat.
Apakah Aqiqah Harus Mengadakan Acara Besar?
Tidak.
Pada dasarnya, aqiqah tidak mensyaratkan adanya pesta besar, dekorasi mewah, atau acara yang menghabiskan banyak biaya.
Esensi aqiqah dalam Islam adalah ibadah penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur atas kelahiran anak.
Karena itu, orang tua dapat memilih pelaksanaan sederhana. Misalnya, kambing disembelih sesuai syariat, daging dimasak, kemudian dibagikan kepada keluarga dan masyarakat yang membutuhkan.
Jika ingin mengadakan acara keluarga, hal tersebut diperbolehkan selama tidak terdapat hal-hal yang bertentangan dengan syariat dan tidak dilakukan secara berlebihan.
Siapa yang Bertanggung Jawab Melaksanakan Aqiqah?
Pada dasarnya, aqiqah berkaitan dengan orang tua atau pihak yang bertanggung jawab terhadap nafkah anak, terutama ayah.
Namun, karena aqiqah hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama, kewajiban finansial seperti nafkah dan kebutuhan pokok keluarga tetap harus menjadi prioritas.
Jika kondisi ekonomi belum memungkinkan, orang tua tidak perlu memaksakan diri.
Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.
Tips Memilih Jasa Aqiqah
Bagi orang tua yang tidak ingin repot mengurus pembelian kambing, penyembelihan, memasak, hingga distribusi makanan, menggunakan jasa aqiqah dapat menjadi pilihan praktis.
Namun, pastikan penyedia jasa memiliki standar yang jelas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Hewan aqiqah sehat dan layak.
Proses penyembelihan sesuai syariat.
Pengolahan makanan dilakukan secara higienis.
Jumlah dan kualitas paket dijelaskan secara transparan.
Tersedia pilihan paket sesuai kebutuhan.
Proses distribusi dapat dipertanggungjawabkan.
Harga disampaikan secara jelas sejak awal.
Dengan memilih penyedia yang amanah, orang tua dapat lebih fokus pada keluarga dan ibadah tanpa harus mengurus seluruh proses teknis sendiri.
Pesan Aqiqah Mudah melalui Syaria.id
Bagi orang tua yang ingin melaksanakan aqiqah sesuai sunnah tetapi ingin proses yang lebih praktis, Syaria.id menyediakan layanan aqiqah yang dapat membantu proses pemesanan.
Melalui layanan aqiqah Syaria.id, Anda dapat memilih paket sesuai kebutuhan dan mengatur pelaksanaan aqiqah tanpa harus mengurus seluruh proses dari awal secara mandiri.
Pastikan setiap proses tetap memperhatikan kualitas hewan, kebersihan pengolahan, serta ketentuan penyembelihan sesuai syariat.
Ingin menyiapkan aqiqah untuk buah hati dengan lebih mudah? Pesan layanan aqiqah melalui aplikasi Syaria.id dan pilih paket yang sesuai kebutuhan keluarga Anda.
Kesimpulan
Aqiqah anak menurut Islam merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan sebagai bentuk syukur atas kelahiran seorang anak. Mayoritas ulama menghukuminya sebagai sunnah muakkadah bagi orang tua yang mampu.
Berdasarkan hadis Nabi ﷺ, aqiqah anak laki-laki dilakukan dengan dua ekor kambing, sedangkan aqiqah anak perempuan dilakukan dengan satu ekor kambing. Waktu yang paling utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran, disertai mencukur rambut dan pemberian nama.
Dalam menjalankan tata cara aqiqah, yang paling penting bukan kemeriahan acaranya, tetapi memastikan ibadah dilakukan sesuai tuntunan syariat. Aqiqah dapat dilakukan secara sederhana dengan menyembelih hewan yang layak, mengolah daging dengan baik, dan membagikannya kepada keluarga serta masyarakat.
Dengan memahami dalil dan ketentuannya, orang tua dapat menjalankan aqiqah menurut Islam dengan lebih tenang, tepat, dan sesuai sunnah.
FAQ Aqiqah Anak Menurut Islam
1. Apa hukum aqiqah dalam Islam?
Menurut mayoritas ulama, aqiqah hukumnya sunnah muakkadah bagi orang tua yang memiliki kemampuan. Aqiqah bukan kewajiban yang harus dipaksakan apabila orang tua berada dalam kondisi tidak mampu.
2. Berapa kambing untuk aqiqah anak laki-laki?
Berdasarkan hadis Nabi ﷺ, aqiqah anak laki-laki dianjurkan dengan dua ekor kambing yang sepadan.
3. Berapa kambing untuk aqiqah anak perempuan?
Aqiqah anak perempuan dianjurkan dengan satu ekor kambing berdasarkan hadis Nabi ﷺ.
4. Kapan waktu terbaik melaksanakan aqiqah?
Waktu yang paling utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika belum dapat dilakukan pada waktu tersebut, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai waktu setelahnya.
5. Apakah aqiqah harus mengadakan acara besar?
Tidak. Acara aqiqah tidak harus dilakukan secara besar-besaran. Aqiqah dapat dilakukan secara sederhana selama ibadah penyembelihan dan prosesnya sesuai dengan ketentuan syariat.
6. Apakah daging aqiqah harus dibagikan dalam kondisi matang?
Dalam praktik masyarakat Indonesia, daging aqiqah umumnya dimasak terlebih dahulu kemudian dibagikan. Hal ini juga menjadi praktik yang dikenal dalam pembahasan fikih aqiqah.
7. Bagaimana cara melaksanakan aqiqah jika orang tua tidak punya waktu?
Orang tua dapat menggunakan jasa aqiqah yang membantu menyediakan hewan, proses penyembelihan, pengolahan makanan, dan distribusi. Namun, tetap penting memilih penyedia yang amanah dan memperhatikan ketentuan syariat.
8. Apakah aqiqah wajib dilakukan jika orang tua tidak mampu?
Tidak. Karena mayoritas ulama memandang aqiqah sebagai sunnah muakkadah, orang tua yang tidak mampu tidak perlu memaksakan diri hingga mengganggu kebutuhan pokok keluarga.


