Hukum Aqiqah Menurut Islam dan Dalilnya
Hosen · 27 Agustus 2026 · 6 dilihat

Hukum aqiqah menurut Islam merupakan salah satu pembahasan yang penting bagi orang tua setelah kelahiran anak. Aqiqah bukan sekadar tradisi atau acara syukuran, tetapi merupakan ibadah yang memiliki dasar dari sunnah Rasulullah SAW. Karena itu, orang tua perlu memahami pengertian aqiqah, hukum pelaksanaannya, dalil hadits tentang aqiqah, serta tata cara aqiqah yang benar agar pelaksanaannya sesuai tuntunan Islam.
Lalu, apa itu aqiqah? Aqiqah adalah penyembelihan hewan karena kelahiran seorang anak sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa ketentuan mengenai jumlah hewan, waktu penyembelihan, jenis hewan, serta amalan yang berkaitan dengan kelahiran anak.
Apa Itu Aqiqah?
Secara bahasa, aqiqah berkaitan dengan rambut yang tumbuh di kepala bayi ketika dilahirkan. Dalam istilah syariat, aqiqah digunakan untuk menyebut penyembelihan hewan karena kelahiran seorang anak.
Pengertian aqiqah dapat dipahami sebagai ibadah penyembelihan hewan yang dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas nikmat kelahiran anak. Aqiqah juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berbagi makanan dan kebahagiaan dengan kerabat, tetangga, serta masyarakat.
Dasar utama aqiqah berasal dari hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. Hadits ini menjadi salah satu landasan utama mengenai pelaksanaan aqiqah dalam Islam.
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa aqiqah berkaitan dengan beberapa amalan kelahiran anak, yaitu penyembelihan hewan, mencukur rambut, dan pemberian nama.
Hukum Aqiqah dalam Islam
Lalu, bagaimana hukum aqiqah dalam Islam?
Mayoritas ulama menjelaskan bahwa aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang tua atau pihak yang bertanggung jawab terhadap nafkah anak apabila memiliki kemampuan.
Artinya, aqiqah bukan kewajiban yang menyebabkan seseorang berdosa apabila tidak melaksanakannya. Namun, bagi orang tua yang memiliki kemampuan, melaksanakan aqiqah merupakan amalan yang sangat dianjurkan karena memiliki dasar yang kuat dari sunnah Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa di antara kalian ingin menyembelih untuk anaknya, maka hendaknya ia menyembelih.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa'i. Para ulama menjadikan hadits tersebut sebagai salah satu dalil dalam pembahasan hukum aqiqah.
Kata “ingin” atau “berkehendak” dalam hadits tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa aqiqah bukan kewajiban mutlak bagi setiap orang tua. Oleh sebab itu, kemampuan menjadi pertimbangan penting dalam melaksanakan ibadah ini.
Islam juga tidak mengajarkan umatnya untuk memaksakan diri dalam melakukan ibadah sunnah. Apabila kondisi ekonomi belum memungkinkan, orang tua tidak perlu berutang atau mengorbankan kebutuhan pokok hanya demi melaksanakan aqiqah.
Dalil Hadits tentang Aqiqah
Dalil tentang aqiqah cukup banyak ditemukan dalam hadits Rasulullah SAW. Salah satu dalil yang paling terkenal adalah hadits dari Salman bin Amir Ad-Dhabbi RA. Rasulullah SAW bersabda:
“Bersama kelahiran seorang anak ada aqiqah, maka alirkanlah darah untuknya dan hilangkanlah gangguan darinya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.
Hadits tersebut menunjukkan bahwa kelahiran anak memiliki kaitan dengan pelaksanaan aqiqah. Penyembelihan hewan menjadi bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dalil lainnya berasal dari Ummu Kurz Al-Ka'biyyah RA. Ia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang aqiqah, kemudian beliau menjelaskan bahwa untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.
Riwayat tersebut menjadi dasar mengenai jumlah hewan dalam aqiqah.
Dalam praktiknya, dua ekor kambing untuk anak laki-laki merupakan bentuk yang lebih sempurna berdasarkan sunnah. Sementara satu ekor kambing untuk anak perempuan merupakan ketentuan yang disebutkan secara jelas dalam hadits.
Apakah Aqiqah Ada Dalil dari Al-Qur'an?
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah terdapat ayat Al-Qur'an yang secara khusus memerintahkan aqiqah.
Jawabannya, tidak terdapat ayat Al-Qur'an yang secara spesifik menyebut perintah aqiqah dengan ketentuan seperti jumlah kambing atau waktu penyembelihannya. Dalil khusus mengenai aqiqah terutama berasal dari hadits Rasulullah SAW.
Namun, prinsip bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat memiliki dasar yang sangat kuat dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Ayat ini memang tidak secara khusus membahas aqiqah. Akan tetapi, kandungan ayat tersebut menjelaskan pentingnya bersyukur atas nikmat Allah. Kelahiran seorang anak merupakan salah satu nikmat besar bagi sebuah keluarga, sehingga aqiqah menjadi salah satu bentuk rasa syukur yang diajarkan melalui sunnah Nabi SAW.
Karena itu, dalil mengenai aqiqah sebaiknya dibedakan antara dalil khusus aqiqah yang berasal dari hadits dan ayat Al-Qur'an yang menjelaskan prinsip umum mengenai syukur kepada Allah.
Ketentuan Jumlah Hewan Aqiqah
Salah satu ketentuan aqiqah dalam Islam yang perlu diketahui adalah jumlah hewan yang disembelih.
Berdasarkan hadits Ummu Kurz, anak laki-laki diaqiqahi dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing.
Mengapa jumlahnya berbeda?
Perbedaan tersebut merupakan ketentuan yang datang dari sunnah Rasulullah SAW. Karena itu, orang tua tidak perlu mencari alasan lain di luar dalil untuk menjelaskan perbedaan tersebut.
Namun, terdapat pembahasan ulama mengenai apakah anak laki-laki harus selalu diaqiqahi dengan dua ekor kambing. Sebagian ulama menjelaskan bahwa satu ekor kambing telah memenuhi pokok kesunnahan aqiqah, sedangkan dua ekor merupakan bentuk yang lebih utama dan sempurna.
Hal ini penting dipahami agar masyarakat tidak menganggap aqiqah sebagai kewajiban yang harus dilakukan dengan biaya tertentu. Inti ibadahnya adalah mengikuti tuntunan syariat sesuai kemampuan.
Syarat Aqiqah yang Perlu Diperhatikan
Apa saja syarat aqiqah?
Pada dasarnya, orang tua perlu memperhatikan beberapa hal agar aqiqah dapat dilakukan sesuai syariat. Hewan yang disembelih harus merupakan hewan yang layak untuk disembelih dan memenuhi ketentuan yang berlaku dalam fikih.
Hewan juga harus sehat dan tidak memiliki cacat yang menyebabkan tidak layak untuk dijadikan hewan sembelihan. Penyembelihan dilakukan dengan menyebut nama Allah dan mengikuti tata cara penyembelihan yang sesuai syariat.
Selain itu, orang yang melaksanakan aqiqah sebaiknya memiliki kemampuan. Aqiqah merupakan ibadah sunnah sehingga tidak semestinya seseorang memaksakan diri sampai mengabaikan kebutuhan utama keluarga.
Waktu Pelaksanaan Aqiqah
Dalam panduan aqiqah lengkap, waktu pelaksanaan juga menjadi hal penting.
Waktu yang paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah hari ketujuh setelah kelahiran anak. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
“Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.”
Hari ketujuh menjadi waktu yang paling dianjurkan karena secara langsung disebutkan dalam hadits.
Namun, jika orang tua belum mampu melaksanakannya pada hari ketujuh, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu berikutnya. Sebagian ulama membolehkan pelaksanaan pada hari ke-14 atau ke-21, sedangkan dalam pembahasan fikih lainnya aqiqah tetap dapat dilakukan setelahnya selama masih memungkinkan.
Karena adanya perbedaan pendapat tersebut, orang tua yang ingin mendapatkan kepastian berdasarkan mazhab atau kondisi tertentu dapat berkonsultasi kepada ustadz atau ahli fikih yang dipercaya.
Tata Cara Aqiqah yang Benar
Lantas bagaimana tata cara aqiqah yang benar?
Pertama, orang tua menentukan anak yang akan diaqiqahi dan mempersiapkan hewan sesuai kemampuan. Untuk anak laki-laki, dua ekor kambing merupakan bentuk yang lebih sempurna, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing.
Kedua, hewan disembelih dengan cara yang sesuai syariat. Penyembelihan dilakukan dengan menyebut nama Allah dan memperhatikan kesejahteraan serta kelayakan hewan.
Ketiga, pada rangkaian sunnah kelahiran tersebut dilakukan pencukuran rambut bayi dan pemberian nama yang baik.
Keempat, daging aqiqah diolah dan dibagikan. Dalam praktik masyarakat Muslim, daging aqiqah umumnya dimasak terlebih dahulu kemudian dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan orang yang membutuhkan.
Dengan demikian, tata cara aqiqah sesuai sunnah tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan, tetapi juga mengandung nilai syukur, berbagi, dan mempererat hubungan sosial.
Cara Melaksanakan Aqiqah Saat Ini
Pada zaman sekarang, cara melaksanakan aqiqah dapat dilakukan sendiri oleh keluarga atau menggunakan jasa penyedia aqiqah.
Jika keluarga memilih melaksanakan sendiri, mereka perlu menyiapkan hewan yang sesuai, menentukan waktu penyembelihan, memastikan proses penyembelihan sesuai syariat, kemudian mengolah dan membagikan dagingnya.
Sementara itu, menggunakan jasa aqiqah dapat menjadi pilihan praktis bagi keluarga yang tidak memiliki waktu atau fasilitas untuk mengurus seluruh proses tersebut.
Namun, orang tua tetap perlu memastikan bahwa penyedia layanan menjalankan proses sesuai syariat, mulai dari pemilihan hewan, penyembelihan, pengolahan makanan, hingga distribusi.
Aturan Aqiqah dalam Islam dan Hikmahnya
Memahami aturan aqiqah dalam Islam bukan hanya bertujuan mengetahui berapa kambing yang harus disembelih. Lebih dari itu, aqiqah memiliki sejumlah hikmah.
Pertama, aqiqah merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelahiran anak. Anak adalah amanah sekaligus nikmat yang sangat besar bagi orang tua.
Kedua, aqiqah menjadi sarana berbagi kebahagiaan. Daging yang dibagikan dapat menjadi sebab hubungan keluarga dan sosial semakin erat.
Ketiga, aqiqah menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Dengan melaksanakan amalan yang diajarkan Nabi, orang tua berusaha menjadikan kelahiran anak sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Keempat, aqiqah mengingatkan orang tua bahwa anak bukan hanya kebahagiaan, tetapi juga amanah yang harus dijaga, dididik, dan dibesarkan sesuai ajaran Islam.
Kesimpulan
Hukum aqiqah menurut Islam pada dasarnya adalah sunnah muakkadah bagi orang yang mampu. Dalil khusus mengenai aqiqah berasal dari sejumlah hadits Rasulullah SAW, bukan dari ayat Al-Qur'an yang secara spesifik mengatur aqiqah.
Apa itu aqiqah? Aqiqah adalah penyembelihan hewan karena kelahiran anak sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Untuk anak laki-laki, dua ekor kambing merupakan bentuk yang lebih utama berdasarkan sunnah, sedangkan anak perempuan satu ekor kambing.
Memahami pengertian aqiqah, hukum, dalil, waktu, syarat aqiqah, hingga tata cara aqiqah yang benar akan membantu orang tua menjalankan ibadah ini dengan lebih baik. Aqiqah sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan dan tidak menjadi beban finansial bagi keluarga.
Yang paling penting, aqiqah tidak berhenti pada acara penyembelihan dan pembagian makanan. Di baliknya terdapat pesan syukur, berbagi, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, serta komitmen orang tua untuk menjaga amanah Allah berupa anak yang telah dipercayakan kepada mereka.
FAQ Hukum Aqiqah Menurut Islam
1. Apa hukum aqiqah dalam Islam?
Hukum aqiqah secara umum adalah sunnah muakkadah bagi orang yang mampu. Aqiqah sangat dianjurkan berdasarkan berbagai hadits Rasulullah SAW, tetapi bukan kewajiban mutlak bagi setiap orang tua.
2. Apakah aqiqah wajib dilakukan?
Aqiqah tidak termasuk kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang tua. Karena hukumnya sunnah, orang tua yang belum mampu tidak perlu memaksakan diri atau berutang untuk melaksanakannya.
3. Berapa kambing untuk aqiqah anak laki-laki?
Berdasarkan hadits, dua ekor kambing merupakan bentuk yang lebih utama untuk anak laki-laki. Dalam pembahasan fikih terdapat pula pendapat bahwa satu kambing telah memenuhi pokok kesunnahan aqiqah.
4. Berapa kambing untuk aqiqah anak perempuan?
Anak perempuan diaqiqahi dengan satu ekor kambing berdasarkan hadits Ummu Kurz RA.
5. Kapan waktu aqiqah yang paling utama?
Waktu yang paling utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika belum mampu pada waktu tersebut, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai waktu pelaksanaan setelahnya.
6. Apa saja tata cara aqiqah sesuai sunnah?
Secara umum, tata caranya meliputi menyiapkan hewan yang memenuhi ketentuan, menyembelihnya sesuai syariat, mencukur rambut bayi, memberikan nama yang baik, serta membagikan daging aqiqah.
7. Apakah aqiqah memiliki dalil Al-Qur'an?
Tidak terdapat ayat Al-Qur'an yang secara khusus mengatur aqiqah, seperti jumlah kambing dan waktu pelaksanaannya. Dalil khusus aqiqah berasal dari hadits Rasulullah SAW. Al-Qur'an memberikan prinsip umum tentang bersyukur kepada Allah, seperti dalam QS. Ibrahim ayat 7.

